THAUMATURGY: PINTU KACA (1)

By : hans ang - LibMagz, 2017-01-20 21:49:34+07

THAUMATURGY: PINTU KACA (1)

PROLOG

Palimanan Barat, Cirebon, Jawa Barat
Tanggal : 1 Maret 2014
Jam : 16.00 WIB

Pintu Kaca Novel Angga Saputra deal.jpgMatahari sore menyinari hutan rimba, hutan dengan ribuan pohon Pinus tumbuh diatas bukit bersama gunung yang menyerupai piramida. Arga, seorang remaja berumur 17 tahun tertidur pulas didalam hutan pohon pinus tersebut, matahari sore perlahan bergerak turun kesebelah barat, tampak langit berwarna jingga bersama sinar mentari menyilaukan wajah arga yang masih terlelap tidur, sinar matahari sore menyentuh wajahnya melewati sela-sela kerumunan pepohonan pinus yang rimbun, perlahan arga membuka kedua matanya.

"ahkk, dimana ini" gumam Arga sembari menatap langit diantara reranting pohon yang dihinggapi puluhan burung-burung gagak hitam, bururng gagak itu terbang berlalu-lalang lalu kembali lagi menduduki ranting. tanpa ragu arga melihat kiri dan kanan mengamati susana sekitar sembari bangkit berdiri , ia mencoba mengingat apa yang sedang terjadi

"bukankah saya tadi ada dikamar tidur, sekarang mengapa ada disini" pikirnya bertanya-tanya, ia berjalan mendekati pohon pinus lalu menyentuh pohon tersebut, tidak puas menyentuh pohon arga pun menampar kedua pipi kanan dan kirinya "ini bukan mimpi" gumamnya kebingungan.

ia mencomba berpikir tenang, tetapi arga benar-benar tidak mengenali hutan pinus ini sungguh membuat dirinya ketakutan, matahari pun berangsur tenggelam malam pun tiba. ia merogoh kantungnya "kemana HP ku" gumamnya sembari merogoh semua kantung kemeja putih dan celana jeans birunya

tiba-tiba saja sebercak Cahaya tampak dari kejauhan, seketika lalu menghilang "Cahaya apa itu" tandas arga terkejut, perlahan-lahan cahaya itu terlihat kembali, tidak ingin membuang waktu ia berjalan mendekati cahaya tersebut tanpa ragu, tiba-tiba saja cahaya itu menghilang kembali, susana didalam hutan benar-benar gelap gulita nyaris tidak terlihat apa-apa "Ya Tuhan ada apa dengan ku, mengapa aku disini" gumam arga kebingungan.

cahaya itu kembali bersinar menampakan diri, melihat itu arga segera berlari secepat mungkin mendekati sumber cahaya, dengan nafas tersengal-sengal ia menangis ketukan sembari terus berlari, semakin lama ia semakin cepat berlari, cahaya itupun semakin lama semakin terang hingga menyilaukan kedua matanya, tidak kemudian arga semakin mendekati cahaya, kaki arga pun tersandung akar pohon seketika terjatuh "Krak!" ia pun tersungkur terpental diantara daun-daun kering, tampak arga kesulitan untuk berdiri.

"sini saya bantu, kaki mu patah" ia mendengar suara seseorang berada dibelakangnya, semakin was-was bercampur kebingungan arga mencoba memalingkan kepalanya perlahan, ia sontak kaget melihat seseorang berjubah hitam dengan kedua mata yang berwarna merah bercahaya, arga tidak berkutik hanya terdiam dengan mata melotot dan wajah berkeringat pucat pasih.

"sini saya bantu" ujar sosok tersebut dengan nada suara yang berat, perlahan sosok berjubah itu mengangkat sebuah tongkat dari tangan kanannya yang seketika berubah menjadi sosok ular kobra, "to...long Ja ja jangan ganggu saya" kata arga gemetar memohon. Dengan menahan rasa sakit kakinya, arga terus menyeret tubuhnya menggunakan kedua tanggannya, ia berusaha keras mendekati sumber cahaya yang menyerupai lingkaran dinding besar

"kemarilah" gumam sosok berjubah, sembari berjalan mendekati arga dengan menggenggam ular yang berdesis meneteskan racun dari kedua taring.

"Tolong jangan ganggu saya" ujar arga terus menyeret tubuhnya mendekati cahaya, tanpa ragu arga pun berusaha menelungkupkan tubunya lalu berjalan tiarap, semakin cepat arga mendekati cahaya itu yang kian menyilaukan matanya, ia memejamkan kedua matanya sembari terus mendekati sumber cahaya, tidak lama berselang arga berhasil masuk kedalam cahaya itu, dan ular tersebut berhasil mematuk kedua kaki arga "Ahkk.... Ahkkk...Ahkkk!" arga meronta meringis kesakitan.

BAB 1
Baling-Baling Helikopter

Pagi yang cerah, tepatnya hari minggu pagi di Jalan Dr. Cipto Mangun Kusumo Kota Cirebon di padati oleh orang-orang yang menikmati suasana pagi, ada yang Jogging, bersepeda hingga menggunakan kendaraan bermotor hanya untuk sekedar menikmati pagi yang hangat, matahari pagi pun seolah tanpa ragu menyinari sehingga menambah keindahan kota tanah wali. Ranti, seorang dokter perempuan cantik berusia 26 tahun sedang asyik jogging di tepian bahu jalan kota, perempuan berambut panjang bergelombang ini terus berlari-lari kecil mengarah persimpangan menuju Jalan Turapev Cirebon. Tiba-tiba langkahnya terhenti, dengan nafas lelahnya ia memandang matahari pagi tertutup awan hitam seketika, "mendung" gumamnya sembari melanjutkan lari-lari kecil "Daaar!" suara ledakan menggema diudara memekakan telinganya, semua orang sejenak menghintikan aktifitas mereka dan memandang kearah langit.

Rantipun mendengar suara gesekan udara dengan benda padat yang datang dari atas langit, semakin lama suara itu semakin mendekat tetapi ia tidak melihat apapun kecuali hanya memandang awan mendung yang semakin menghitam, "nguuungggg....!" suara dengungan dari atas kepalanya itu semakin membuatnya kebingungan, ia pun mencoba menghindar dan tiba-tiba "Daar... seeerrr...." baling-baling Helikopter jatuh terhempas dan terseret dihadapannya, ranti berlari menghindar lalu beridiri tertegun memandang baling-baling itu terjatuh terseret hingga 50 Meter menjuhinya, hempasan itu merusak aspal dan papan reklame di tengah jalan lalu lintas, "Apa?!" ujarnya kaget. semua orang berteriak histeris sambil berlari menjauhi baling-baling tersebut, tidak lama kemudian baling-baling itu berhenti terseret.

"benda apa itu, apa itu baling-baling Helikopter" ujar orang-orang bertanya-tanya sambil ragu-ragu mendekati benda tersebut, tidak lama berselang seekor burung walet jatuh dihadapan Ranti, ia sontak terkejut "apa?!" tandasnya bertanya, ia pun mencoba memberanikan diri mendekati burung itu yang perlahan-lahan meregang nyawa dan mati seperti ayam disembelih, seketika puluhan burung jatuh dari langit layaknya hujan turun, burung-burung itu memenuhi jalan aspal sambil menggelepar serta berkicau pelan setelah itu satu persatu mati.

semua masyarakat mendekati burung dan baling-baling helikopter, ada yang hanya menyaksikan kejadian itu dari atas Rumah Tokoh dan melihat fenomena itu dengan penuh tanda tanya, suasana tempat kejadian tersebut lengang yang ada hanya wajah-wajah kebingungan masyarakat setempat, "Telpon Polisi saja sekarang!" teriak salah seorang pria dari atas Rumah Tokoh tersebut, seketika semua orang tersadar dari lamunan keheranan mereka, 5 menit kemudian Polisi dengan peralatan pengangkut alat berat pun datang, semua wargapun di evakuasi dan ditanyai berbagai hal oleh pihak kepolisian. sementara itu Ranti merogoh kantung mengambil telpon genggamnya lalu menghubingi seseorang "tut... tut... tut..." panggilannya tidak dijawab, ia pun kembali menghubungi "ayo dong di angkat, please..." gumam ranti.

"Hallo... " ujar seorang pria menerima telepon ranti, "ini saya Dok, Pak Dokter ada dimana?" jawab ranti dengan nafas tersengal-sengal.

BAB 2
Gulungan Kertas

Kaballah.jpgRanti menuju Jakarta menggunakan mobil sedan Honda Accord nya untuk menemui dokter Abraham, setelah menempuh 3 Jam perjalanan dari Kabupaten Cirebon menuju Ibu Kota Ranti pun berhenti di Perpustakaan Nasional Jalan Salemba Jakarta Pusat, ia memarkirkan kendaraannya sembari telepon genggamnya berdering, ranti mengangkat telepon sambil keluar dari mobil "halo, ranti kamu ke dalam perpustakaan saja sekarang" ujar dokter abraham, "iya dok, saya baru saja sampai" jawab ranti seraya berjalan masuk kedalam ruang perpustakaan.

Perpustakaan tampak sepi, hanya ada beberapa pengunjung mencari buku-buku disetiap blok rak perpustakaan, ranti melihat dari kejauhan dokter abraham duduk sendirian mengenakan jas panjang berwarna coklat di sebuah kursi baca sambil membaca buku, ranti berjalan mendekati "dok" sapa ranti, dokter abraham pun melirik ranti "hei, apa kabar dokter muda yang cerdas, silahkan duduk" gumam dokter abraham pelan, ranti pun duduk berhadapan sambil melihat buku bacaan dokter abraham.

"buku apa itu dok" tanya ranti

"buku ini menceritakan sejarah yang berkaitan dengan peristiwa yang kamu alami di Cirebon" ujar dokter abraham menyodorkan buku tersebut

"Seven Rolls of Papers" ujar ranti membaca salah satu judul di buku itu

"iya, 7 gulungan kertas yang sebenarnya menjadi kunci sebuah misteri yang selama ini masih tersimpan rapat"

"lalu, apa yang harus dilakukan?" tanya ranti

"oke, kalau kau sudah siap aku akan menunjukan mu sesuatu, buku ini merupakan buku saduran dan yang aslinya ada di perpustakaan pribadi saya"

Dokter Abraham pun mengajak ranti menuju Perpustakaan pribadinya di Pulau Sumatera menggunakan mobil Ranti Honda Accord warna putih produksi tahun 1990 an, mereka berdua saling bergantian menyetir mobil hingga menyebrangi lautan menggunakan Kapal Ferry dari Pelabuhan Merak Banten menuju Pelabuhan Bakauheni Lampung Sumatera, selama menempuh 3 hari 3 malam tibahlah mereka di sebuah dusun terpencil wilayah Provinsi Jambi yaitu di Kecamatan Kayu Aro Barat Kabupaten Kerinci, tiba-tiba hujan deras turun menambah udara dingin yang menyengat tulang, dokter Abraham masih mengendarai mobil sementara Ranti terbangun dari tidurnya selama di perjalanan.

"sudah sampai dok" tanya ranti yang berselimut dikursi belakang

"ok kita sudah sampai" jawab dokter abraham sembari melihat-lihat lingkungan sekitar

ranti pun melihat Jam tangannya, "Jam 5 sore dok" gumam ranti

"Iya, sekarang masih jam 5 sore tetapi disini gelap tertutup mendung" tandas dokter abraham sambil menghentikan mobil tepat disebuah rumah tua

Hujanpun menghentikan laju derasnya, hanya menyisakan rintik-rintik dan bunyi gemeruh petir yang pelan di atas langit dusun tersebut, mereka berdua turun perlahan dari mobil sambil memandang kebun teh terselimuti kabut yang ada disekitaran rumah tua tersebut, rumah tua itu layaknya tipe rumah 45 hanya saja bergaya belanda.

"Rumah siapa ini dok" tanya ranti

"rumah peninggalan orang tua saya, rumah berarsitektur belanda pada tahun 1921 an" ujar dokter abraham sembari mengangkat batu disamping pintu depan rumah tersebut, lalu mengambil sebuah kunci

"itu kunci rumahnya dok"

"iya"

stelah membuka pintu mereka pun masuk perlahan, dan dokter abraham menuju kesebuah saklar didinding ruang tamu, lampu listrik pun nyala. sementara itu Ranti hanya berjalan melihat-lihat lukisan yang terdapat didinding-dingin rumah yang di cat seperti wallpaper bunga tulip, hanya saja wallpaper yang menjadi penghias dinding itu warnanya tidak keliahatan lagi, hanya menyerupai garis-garis hitam yang memudar saja, lalu ia memandang sebuah lukisan seseorang yang menggunakan jubah hitam sedang memperharikan lukisan berwarna putih polos.

"ini lukisan apa dok" tanya ranti, dokter abraham pun memandang kearah lukisan tersebut sambil berjalan menghampiri ranti membawa sebuah lampu lentera kecil yang diambilnya dari atas meja ruang tamu tersebut
"itu lukisan peninggalan kakek buyut ku, entah apa artinya hingga kini saya belum tahu pasti" gumam dokter seraya merogoh kantungnya dan mengeluarkan korek api kayu, ia pun memberikan korek dan lentera itu kepada ranti

"saya hidupkan dok" ujar ranti pelan

"iya, masih ada minyaknya cukuplah untuk satu malam ini" jawab dokter, ranti meletakan lentera itu diatas meja ruang tamu yang terbuat dari kayu jati dan menghidupkan lampu minyak tersebut.

"kita mau kemana dok, bukankah disini sudah cukup penerangan" ujar ranti

"disini memang bisa saya pasang saklar lampunya, ya semenjak wilayah ini sudah dianggap kecamatan akhirnya listrik bisa masuk, hanya saja listrik tidak bisa mengalir dibawah" jelas dokter.

"dibawah apa dok?"

"diruang bawah tanah, disana ruangan perpustakaan saya peninggalan kakek buyut kami"

merekapun berjalan menuju dapur yang gelap gulita itu, dokter abraham pun meraba dinding di sekitaran tungku yang terbuat dari batu, dan ranti memberikan pencahayaan dari lentera yang ia pegang, dokter abraham mendorong salah satu batu kearah dalam binding ternyata itu adalah pintu yang terbuat dari batu, setelah pintu terbuka mereka berdua bergegas masuk kedalam ruang bawah tanah dengan meniti tangga yang terbuat dari batu pula. setelah meniti anak tangga kurang lebih sedalam 30 Meter ranti melihat kelelawar menempel dilangit-langit ruangan perpustakaan tersebut.

"selamat datang Ranti" ujar dokter abraham seraya tersenyum kearah arah ranti, rantipun membalas senyum sambil berjalan mendekati rak buku yang terbuat dari kayu dengan tinggi 12 meter tersebut, ia terheran-heran memandang perpustakaan bawah tanah yang luas didalam tanah.

"Luar bisa..." gumam ranti sembari menyentuh deretan buku yang diselimuti debu, sementara itu dokter abraham menaiki tangga kecil yang berada di sudut rak buku perpustaakan

"Ranti, tolong korek apinya" rantipun menghampiri dan memberikan korek api

"itu lampu minyak dok?" tanya ranti

"iya" jawab dokter sambil menghidupkan lampu tersebut, setelah dokter abraham menghidupi 5 lampu yang berada disetiap sudut rak buku, rantipun duduk di kursi baca, dokter abraham pun mengambil sebuah buku tua lalu membawa buku tersebut dihadapan ranti

"ini dia bukunya" ujar dokter abraham sembari menyodorkan buku tersebut, rantipun kebingungan

"ini bahasa Ibrani dok? tanya ranti

"benar, tapi sudah saya artikan kedalam bahasa Indonesia" ujar dokter abraham menunjuk catatan kaki yang ia buat disamping tulisan ibrani tersebut

"Ilmu Rahasia disekolah Phytagoras?" ujar ranti membaca buku tersebut

"iya, sebuah sekolah yang hingga kini masih ada dan tidak semua orang bisa menemukan sekolah tersebut" tandas dokter abraham menjelaskan sembari berjalan mendekati piringan musik tua, ia pun memutar musik Mozart Requim.

"lalu apa yang harus kita lakukan sekrang?" tanya ranti

"kau harus siap dahulu, jika kau siap lahir dan bathin mu, saya akan mengajak mu untuk menyelidiki persoalan yang terjadi" jawab dokter

"maksudnya dok?"

"ranti, selama saya menjadi dokter syaraf dan menjadi dokter psikology, saya hanya menemukan seseorang yang bekemampuan khusus seperti kamu, selama saya mengajar menjadi dosen, saya sama sekali belum pernah bertemu perempuan mahasiswa yang sehebat kamu, dan kini kau sudah bekerja disalah satu rumah sakit swasta dan pengalaman-pengalaman mu yang dahulu pernah kita ceritakan itu nyata bukan?

"iya" tandas ranti sembari sejenak berpikir

"jika kamu siap, kita harus menghentikan mereka karena jelas bumi dan alam semesta ini belum bisa disatukan dengan alam sebelah" lanjut dokter abraham meyakinkan ranti

"hei, ranti lihat saya" lanjut dokter abraham sembari menatap serius kearah ranti "saat ini hanya kita berdua yang bisa menghintikan niat mereka yang selama ini kita tidak tahu mereka itu siapa dan apa motifnya"

"yang pasti mereka ingin membuka alam sebelah, atau alam ghaib, atau dunia paralel yang dianggap pelaku saintis sekarang" jawab ranti

"benar, benar, saya sepakat" jawab dokter menatap nanar ranti
"Jika saya tidak mau, mana mungkin saya hadir disini" gumam ranti gugup.

BAB 3
Bakar

Thaumaturgy foto.jpghujan diiringi angin turun begitu deras, Ranti masih tertidur dikamar Hotel Kerinci Jalan Muradi Kota Sungai Penuh Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi, "tok... tok... tok Ranti bangun" ujar dokter abraham membangunkan, ranti pun bangun dan berjalan mendekati pakaian piyamana nya yang tersender diatas kursi kamar "sebentar" jawab ranti seraya menggunakan piyama berwarna biru, ia pun berjalan mendekati pintu lalu membukanya.

"bentar dok ya, saya mau mandi" kata ranti sambil merapikan rambut gelombangnya

"ok, saya tunggu di ruang makan hotel ya" ujar dokter sambil berjalan menuju ruang makan hotel

Rantipun menutup pintu hotel lalu berjalan menuju kamar mandi, seusai mandi ia mengenakan pakaian kemeja berwarna coklat dan celana jeans biru lalu mengenakan blazer putih, setelah selesai berdandan sambil mengikat rambutnya Ranti bergegas turun dari kamar hotel, hujan deras mewarnai aktifitas pagi di hotel kerinci yang cukup ramai didatangi pengunjung, ketika turun dari tangga ranti berjalan memasuki ruang makan hotel.

"Ranti" sapa dokter abraham pelan sambil mengangkat tangannya, ranti berjalan mendekati dan duduk berhadapan di meja makan tersebut

"Jadi apa rencana kita selanjutnya dok?" tanya ranti

"kita sarapan dulu, setelah itu kita menuju Kota Palembang sumatera selatan untuk bertemu teman lama"

"siapa dok?"

"Profesor Jaya"

merekapun mengambil beberapa roti dan kopi susu untuk sarapan pagi, setelah sarapan dokter abraham dan ranti berjalan menuju resepsionist hotel untuk check out dan merekapun bergegas keluar dari hotel menuju area parkir mobil, ranti duduk dikursi pengemudi sementara itu dokter abraham duduk dikursi belakang

"kenapa tidak didepan saja dok?" tanya ranti

"tidak, saya mau memeriksa buku-buku tua yang kita ambil di perpustakaan saya kemarin" dokterpun mengecek setiap buku yang mereka bawa, semuanya berjumlah 3 buku, 1 buku berbahasa Ibrani dan 2 buku berbahasa Inggris

"sayang sekali ya ketiga buku itu tidak ada sampulnya" sela ranti seraya mengendarai mobil keluar dari halaman hotel kerinci
"iya benar, untuk itu kita ke Palembang dahulu menemui teman lama, karena saya lupa apa judul buku-buku ini dan lagi pula dia lebih tahu isi buku ini" jelas dokter

"dokter tidak ingat?"

"bukan tidak ingat, hanya saja dahulu saya kurang mengerti penjelasannya, tetapi saya belajar tentang beberapa organisasi rahasia yang turun temurun berusaha membuka gerbang atau pintu tersebut untuk di sambungkan ke alam kita sekarang"

dengan kecepatan 90 Km per jam ranti menuju palembang dengan jarak tembuh 10 Jam saja, ia melihat dokter abraham tertidur pulas dari kaca sepion dalam mobil, rantipun menghentikan mobil disebuah SPBU jalan Demang Lebar Daun Kota Palembang

"dok bangun" ujar ranti membangunkan, dokter abraham pun perlahan membuka matanya dan bangun dari tidurnya diatas kursi belakang

"kita dimana sekarang"

"di SPBU Pom bensin, dokter lapar? itu kebetulan ada rumah makan siap saji disebelah SPBU, kalau mau saya belikan makanan"

"boleh juga" jawab dokter meng iya kan

"ok tunggu sebentar dok ya" ujar ranti lalu keluar dari mobil menuju toko makanan cepat saji disamping SPBU tersebut

15 menit kemudian ranti datang dan masuk kedalam mobil sambil memberikan makanan tersebut kepada dokter abrahama, merekapun menikmati makanan tersebut didalam mobil. sementara itu ranti melihat jam tangan ditangan kirinya sudah menunjukkan jam 2 dini hari, dokter abraham pun melihat ranti memandang jam tangannya.

"kita tidur dialam mobil ini saja" ujar dokter abraham seraya mengunyah daging ayam koreng

"iya dok, pagi nya kita kemana?" tanya ranti sambil mengunyah

"kita kerumah Sakit Jiwa Palembang"

"apa?" gumam ranti bingung

"iya kita kesana, ada yang salah?"

"gak sih, apa profesor jaya kerja disana dok?"

"sudah pokoknya setelah makan kita istirahat dan paginya kita kerumah sakit jiwa palembang" tutup dokter

tidak terasa pagi sudah datang, dokter abraham bangun dan melihat matahari pagi sudah terang, ia melihat semua masyarakat palembang sudah kembali beraktifitas, bunyi klakson kendaraan bermotor terdengar dari dalam mobil, dokter abraham melihat jam tangan sudah menunjukan pukul 7 pagi

"ranti bangun, hei bangun" ujar dokter abraham membangunkan sambil menepuk-nepuk bahu ranti, ranti membuka matanya

"sudah jam berapa dok?" tanya ranti pelan sambil menguap ngantuk

"jam 7 pagi, ayo kita ke rumah sakit Jiwa sekrang"

"iya" jawab ranti sambil menyalakan mobil

merekapun menuju Rumah Sakit Jiwa Palembang, berselang 15 menit perjalanan mereka tiba di rumah sakit jiwa dan memarkirkan kendaraan lalu seorang satpam menghampiri mereka, "mau kemana Bu?" tanya seorang satpam kepada ranti, "kita mau menjenguk seoarang pasien" tandas dokter abraham dari kursi belakang mobil, mendengar itu ranti mengkerutkan keningnya, "iya, nanti Bapak sama Ibu masuk dari pintu depan dan ambil kartu tanda pengunjung" jawab satpam ramah

"kita mau bertemu pasien?" gumam ranti bertanya sembari mematikan mesin kendaraannya

"sudah ikut saja, ayo turun" ujar dokter tersenyum kecil

mereka menuju pintu masuk rumah sakit jiwa dan mengambil tanda pengunjung dari resepsionis rumah sakit jiwa, seorang dokter datang menghampiri resepsionis dan melihat dokter abraham bersama ranti mengisi buku tamu untuk bertemu Profesor Jaya, seorang dokter itupun memandang mereka berdua penuh tanya.

"sebelumnya perkenalkan saya dokter hendry" ujar seorang dokter tersebut sambil mengulurkan tangannya, dokter abraham pun menjabat tangan dokter tersebut

"saya dokter abraham dan ini teman saya dokter ranti" ranti hanya membalas senyum

"sebenarnya Profesor Jaya belum bisa dikunjungi" ujar dokter hendry menatap serius

"kenapa?" tanya dokter abraham

"huff..." dokter hendry menghela nafas "profesor jaya mengamuk, lalu ia membakar 1 orang pasien" jawab dokter hendry melanjutkan pembicaraannya

"kenapa begitu?"

"itu yang masih kami selidiki, ia membakar seorang pasien dan hingga saat ini kami masih mengikatnya dengan rantai karena beberapa ikatan biasa mampu dilepaskannya"

"tapi kita harus bertemu profesor jaya" jawab dokter abraham berharap

"anda keluarganya?"

"bukan, saya teman lamanya"

"kita bicarakan di ruangan saya saja, ayo ikut saya" ujar dokter hendry mengajak dokter abraham dan ranti menuju ruangan kantornya

merekapun membuntuti dokter hendry menuju ruangannya yang berada di lantai dua, ranti melihat sebuah ruangan yang isinya adalah para pasien yang menderita sakit jiwa setiap pasien tersebut bertingkah aneh, ada yang menghidupkan dan mematikan TV menggunakan remot TV, ada yang terdiam memandang TV, ada yang duduk sambil berbicara sendiri, ada yang menggendong boneka hingga membaca koran dengan posisi terbalik seketika ranti tersenyum, dokter hendry melihat ranti tersenyum

"kenapa, lucu ya?" ujar dokter hendry bertanya sambil melirik ranti

"hehe, iya lucu saja" jawab ranti malu

"sebenarnya mereka memiliki alam sendiri" tandas dokter abraham

tidak lama berselang tibalah diruangan dokter hendry, dokter hendry mempersilahkan mereka berdua duduk sembari menarik kursi agar lebih mudah diduduki, ranti dan dokter abraham pun duduk berhadapan dengan dokter hendry di meja kerjanya, dokter hendry pun melihat kiri dan kanan seolah sedang mencari sesuatu "tunggu ya, saya mau keruangan sebelah dulu" ujar dokter hendry sambil berdiri, "Oh iya silahkan dok" jawab dokter abraham, sembari dokter hendry keluar dari ruangan kerjanya, ranti memandang sekeliling ruangan tersebut yang dicat berwarna putih, dengan beberapa karangan bunga yang terdapat di pas bunga berukuran cukup besar, ia pun melihat lukisan pohon yang menarik

"dok lihat" ujar ranti menunjukan lukisan yang ia maksud

"lukisan pohon dan akar, apa itu kaballa?" gumam dokter abraham bertanya

"apa dok?" tanya ranti bingung

"tidak, bukan apa-apa" jawab dokter abraham

"jadi kita langsung saja dok" ujar dokter hendry berjalan masuk menuju kursi kerjanya sambil menyodorkan beberapa dokumen yang berisikan foto-foto korban pembunuhan yang terjadi di Rumah Sakit Jiwa tersebut

"maksudnya?" tanya dokter abraham

"ini semua dokumen pembunuhan dengan cara dibakar yang dilakukan Profesor Jaya"

"apa?" tandas ranti seraya membuka foto-foto manusia terpanggang api dan beberapa data yang dikumpulkan dari media lokal setempat

"Profesor jaya belum bisa tenang, berbagai obat bius sudah kami berikan dan dia masih saja mengamuk"

"hingga sekarang masih mengamuk?" tanya dokter abraham

"tidak, dia mengamuk ketika ada yang mendekatinya, dan apakah anda berdua adalah murid profesor jaya?" jawab dokter hendry sambil bertanya secara serius, dokter abraham hanya terdiam saja dan tersenyum.

(Bersambung)

#Pintu Kaca #Thaumaturgy #misteri alam lain #sains dan ghaib #dunia paralel #dunia berbeda #dunia astral #pengetahuan dan mistis #ilmu tersembunyi #Novel bersambung #Novel Misteri #Novel Thriller #Karya A Saputra
3 years ago, by hans ang
Category : BERITA PILIHAN, OPINI DAN ARTIKEL, PERNIK, SENI BUDAYA, GAYA, SAINS DAN TEKNOLOGI

Artikel/Berita Terkait :

Kontak Informasi LibMagz.com

Redaksi : info[at]libmagz.com
Follow Us :